Lifestyle

Toxic Masculinity dalam Keseharian Kita dan Cara Menguranginya

Toxic Masculinity

Hai bro, lo pernah mendengar istilah toxic masculinity? Penasaran contoh di kehidupan sehari-hari dan cara menguranginya?

Nah, artikel kali ini dibuat untuk merayakan Hari Pria Internasional yang dirayakan setiap tanggal 19 November dua minggu lalu. Hanya saja, gw baru sempat mengangkat artikel ini sekarang 🙁

Buat yang belum tahu, tujuan ditetapkannya hari tersebut yaitu supaya gw, lo, dan semua pria di dunia selalu mengingat berbagai nilai positif yang diberikan seorang pria kepada keluarga dan lingkungan sekitarnya

Selain itu, Hari Pria Internasional juga digunakan sebagai pengingat kesadaran tentang kesejahteraan pria. Di tahun ini, tema yang diusung adalah “kesehatan yang lebih baik untuk pria dan anak laki-laki”.

Peringatan ini sudah dimulai sejak tahun 1999. Bukan bermaksud untuk menandingi hari perempuan sedunia, tetapi lebih mengarah kepada pentingnya aspek kesehatan fisik serta mental dan berbagai sifat positif lain pada pria.

Lo bisa mengecek lebih lanjut pembahasannya di situs International Men’s Day ya. Untuk sekarang, kita akan membahas lebih spesifik untuk topik toxic masculinity.

 

Penjelasan Toxic Masculinity

Hari pria internasional penting untuk diperingati guna menghindarkan para pria, khususnya anak-anak dari toxic masculinity. Di Indonesia sejak kecil mayoritas anak-anak pria diajarkan untuk menjadi sosok yang kuat dan tangguh.

Namun, yang sering terjadi justru mereka kemudian menganggap kegiatan yang berhubungan dengan rumah tangga, seperti menyapu dan memasak hanya layak dilakukan oleh kaum wanita. Hal semacam ini tentunya contoh masalah yang bisa berakibat buruk ke depannya.

Lalu apa sebenarnya pengertian dari toxic masculinity dan dari mana istilah tersebut berasal? Supaya lo tidak semakin penasaran, langsung saja ikuti pembahasannya di bawah ini.

 

1. Pengertian Toxic Masculinity

Toxic masculinity berkaitan dengan perilaku sempit tentang peran seorang laki-laki. Definisi maskulin dalam istilah tersebut merujuk pada sifat pria yang lekat dengan kekerasan, agresif, orientasi pada seks, dan minim ekspresi emosi.

Gampangnya, toxic masculinity merupakan suatu keadaan di mana lo merasa paling dominan dan menganggap remeh hal-hal lain yang tidak sesuai dengan standar pribadi.

Karena bersifat toxic, maka karakter seperti ini perlu lo hindari. Orang dengan sifat toxic masculinity cenderung melebih-lebihkan standar maskulin pria dan selalu merasa superior.

 

2. Asal Istilah

Istilah ini sebenarnya belum lama digunakan. Orang yang pertama kali mempopulerkannya adalah seorang psikolog bernama Shepherd Bilss. Menurutnya, tujuan istilah tersebut yaitu memberikan batasan yang jelas antara nilai positif dan negatif pria.

Bilss juga berpendapat bahwa sisi maskulinitas punya 2 sisi mata uang. Salah satunya bisa menimbulkan efek negatif dan pada akhirnya berakibat merusak kehidupan seorang pria.

 

3. Efek Buruk Toxic Masculinity

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, toxic masculinity akan berbahaya jika dibiarkan begitu saja. Nantinya, pertumbuhan pria baik itu anak-anak atau remaja bisa terhambat dan menjadi terkekang dalam kehidupan bermasyarakat.

Misalkan lo tumbuh dan berkembang di lingkungan dengan mindset toxic masculinity, lo akan menjadi terbiasa dan menganggap bahwa perilaku tersebut merupakan hal yang biasa. Tidak hanya bagi diri sendiri, sifat tersebut juga berbahaya bagi orang lain, khususnya wanita.

Mereka akan menerima konsekuensi dari perlakuan yang tidak mengenakkan hanya karena anggapan bahwa pria lebih superior. Contohnya seperti melakukan kekerasan ataupun pelecehan fisik kepada wanita.

Follow Instagram Mas Kulin

Risiko terburuknya adalah korban kekerasan mengalami trauma psikologis dan bahkan sampai ada yang bunuh diri.

 

Cek juga: Cara Mengurangi Stres Akibat Pekerjaan

 

Contoh Perilaku Toxic Masculinity

Setelah memahami pengertian dan apa saja risiko yang ditimbulkan oleh toxic masculinity, lo juga sebaiknya mengetahui contoh perilakunya.

Mungkin saja perilaku ini sering tidak disadari dan dianggap sepele oleh para pria. Padahal jika dibiarkan bisa membentuk karakter kepribadian yang buruk dan mengarah ke bullying.

Apa saja contoh perilaku tersebut? Simak penjelasannya dalam poin-poin di bawah ini.

 

1. Pria Tidak Boleh Menangis

Contoh toxic masculinity - pria tak boleh menangis

Anggapan ini mungkin sering lo denger ketika masih kecil. Atau mungkin, justru lo sendiri yang mengalami didikan semacam ini.

Orang tua dengan pola pikir konvensional sering memarahi anak laki-lakinya yang menangis akibat suatu hal. Padahal, cara ini berbahaya jika diteruskan dalam waktu lama dan bisa memicu sifat toxic masculinity.

Bersedih atau menangis tidak ada hubungannya sama sekali dengan gender. Sah-sah saja kalau seorang pria menunjukkan ekspresi kesedihan ketika mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan.

Menangis juga tidak akan membuat identitas pria luntur. Jangan ragu untuk mengekspresikan kesedihan karena rasa emosi dan sensitivitas masing-masing orang tentunya berbeda.

Intinya menangis tidak akan membuat terlihat lo lemah. Bahkan, meluapkan emosi justru penting karena jika dibiarkan mengendap bisa menjadi pemicu energi buruk di kemudian hari.

 

2. Melakukan Tindakan Kekerasan

Misogini dan kekerasan pada wanita
Sumber: thesun.ie

Contoh perilaku berikutnya ini termasuk yang paling berbahaya karena merugikan orang lain. Biasanya, kaum wanitalah yang menjadi sasaran pria dengan tingkat toxic masculinity akut. Selain wanita, pria yang dianggap feminim juga sering menjadi sasaran tersebut.

Mereka tega melakukan hal buruk hanya karena merasa punya kedudukan yang lebih tinggi. Apapun yang dilakukan wanita, baik dalam hubungan biasa atau rumah tangga akan dicap salah karena tidak sesuai ekspektasi.

Tindakan kekerasan dan meremehkan terhadap para wanita juga dapat terjadi karena perilaku misogini (misogyny dalam bahasa Inggris). Ini merupakan perilaku kebencian terhadap wanita dan menganggap mereka memiliki derajat lebih rendah dari pria.

Kekerasan tersebut banyak bentuknya. Mulai dari verbal, fisik, hingga seksual yang nantinya bisa menimbulkan trauma pada korban.

Padahal sebagai pria sejati, lo seharusnya memperlakukan wanita sebagai makhluk yang mulia dan sederajat. Ingat, jika ingin mendapatkan perlakuan baik maka lo juga mesti berlaku sebaliknya kepada orang lain.

 

3. Bersikap Dominan

Terlalu mendominasi wanita - bentuk maskulinitas toxic
Sumber: thejakartapost.com

Sikap dominan pada dasarnya adalah naluri pria. Mereka ingin terlihat gagah dan mandiri sehingga bisa melindungi pasangannya dari berbagai ancaman.

Tetapi menjadi berbahaya jika sikap dominan tersebut menjadi berlebihan. Contoh yang sering terjadi adalah menganggap remeh semua pendapat wanita dan tidak mau mendengarkan masukan.

Hal tersebut dipicu oleh persepsi bahwa seorang prialah yang sejatinya berperan sebagai pemimpin. Wanita hanyalah sosok yang wajib mengiyakan apapun keputusannya, entah itu baik atau buruk.

Contoh lain yaitu beranggapan bahwa seorang pria adalah satu-satunya tulang punggung dalam mencari nafkah. Saat wanita ingin ikut membantu perekonomian keluarga, mereka akan tersinggung karena merasa dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Berbagai contoh perilaku tersebut tentunya membuat hubungan tidak harmonis. Dalam sebuah hubungan, seorang pria seharusnya bisa menurunkan ego dan lebih open minded kepada pasangan.

 

4. Mengejek Teman dengan Penampilan Rapi

Mengejek teman pria yang rapih
Sumber: claritchi.com

Penampilan adalah hal pribadi setiap orang. Masing-masing punya hak untuk memakai baju apapun sesuai keinginan tanpa perlu dikomentari secara sinis.

Kalau ada temen lo (biasanya pria juga) yang sering mengejek penampilan orang lain karena dipandang jelek dan tidak sesuai standar mereka, ini adalah indikasi sifat toxic masculinity. Anggapannya adalah seorang pria harus tampil macho, perlu dipertanyakan sisi maskulinitasnya jika style sehari-hari rapi, apalagi sampai berdandan.

Bro, kerapian dan kebersihan adalah faktor penting karena bisa memunculkan kesan baik di mata orang lain. Mereka yang memilih tampil rapi mungkin memang ingin terlihat sebagai sosok yang proper dan mengerti estetika.

Untuk itu, tidak ada satu orang pun yang berhak mengejek penampilan hanya karena ego pribadi. Toh, tidak ada pihak yang dirugikan sama sekali saat mereka rapi, kan?

 

5. Kurang Empati dan Anti Kritik

Pria anti kritik dan kurang empati merupakan toxic masculinity
Sumber: freepik.com

Contoh perilaku terakhir yang mencerminkan sifat toxic masculinity adalah kurang empati dan anti kritik. Hal ini disebabkan karena ketidakpekaan terhadap lingkungan sosial dan cenderung merasa eksklusif.

Orang-orang seperti ini merasa tidak butuh bersosialisasi. Lingkungan sekitar hanyalah faktor pengganggu dan bisa memberikan pengaruh buruk ke diri mereka sendiri.

Akibatnya adalah rasa empati menjadi hilang dan tidak peduli dengan fenomena sosial yang sedang terjadi. Mereka juga cenderung ingin menang sendiri dan anti kritik.

Kritikan tersebut dianggap sebagai angin lalu saja karena berasal dari orang yang tidak kompeten, bahkan tidak pantas bergaul dengan mereka. Hal ini dipicu karena perasaan paling berkuasa dan menganggap apapun yang dilakukan sudah pasti benar.

Padahal bersosialisasi adalah hal wajib bagi manusia. Lo tidak mungkin bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Untuk itu sebaiknya turunkan ego dan mulai belajar mendengar pendapat orang lain, siapa tahu efeknya bisa membuat lo menjadi pribadi yang lebih baik.

 

Cek juga: Tips Menjaga Kesuburan untuk Para Pria

 

Cara Mengurangi Toxic Masculinity

Mengingat efeknya yang begitu buruk, toxic masculinity menjadi sifat pria yang sudah seharusnya dihindari. Lalu bagaimana cara efektif untuk mengurangi sifat ini dan bisa langsung dipraktekkan?

Daripada berlama-lama, langsung saja lo simak penjelasannya berikut ini. Check this out!

 

1. Pengelolaan Emosi

Setiap orang punya cara mengontrol emosi yang berbeda-beda. Ada yang termasuk sumbu pendek tetapi ada juga yang sangat sabar menghadapi berbagai hal dalam hidup.

Mustahil kalau lo ingin menghilangkan emosi karena ini adalah sifat bawaan. Cara terbaik yaitu dengan mengelola emosi.

Cobalah untuk tidak terlalu reaktif dengan perkataan orang lain. Tarik dan buang nafas berkali-kali bagi lo yang kesulitan mengendalikannya. Sebaiknya juga jangan menyembunyikan atau menekan emosi karena nantinya justru bisa menjadi bom waktu.

Dengarkan dan cerna baik-baik setiap perkataan yang masuk ke telinga. Jika memang tidak sesuai dengan pendapat pribadi, tidak perlu meluapkan emosi secara berlebihan.

Poin pentingnya adalah sama-sama belajar menghargai pendapat. Jika lo tidak ingin disepelekan orang lain ketika berbicara, maka jangan melakukan hal yang sama.

Memang tidak gampang mengelola emosi, terlebih lagi kalau lo pada dasarnya sosok yang ekspresif. Namun, bukan mustahil asalkan lo bisa melihat sisi positif dari berbagai hal dan selalu berpikir jernih.

 

2. Mengedepankan Tata Krama

Dalam kehidupan sosial, toxic masculinity membuat seorang pria menganggap remeh etika dan tidak punya rasa menghargai terhadap orang lain. Jika dibiarkan, orang-orang seperti ini akan dikucilkan dalam pergaulan dan tidak dianggap dalam masyarakat.

Untuk mengatasinya, yang perlu lo lakukan adalah mengedepankan tata krama. Selalu tempatkan sikap rendah hati ketika berinteraksi dengan orang lain.

Siapapun orang yang lo ajak bicara, anggap dia sebagai sosok penting yang perlu didengarkan setiap ucapannya. Yang tidak kalah penting, kesampingkan dulu gender dan tempatkan pria dan wanita dalam kedudukan yang sama.

Mungkin awalnya sulit, tetapi jika tidak dicoba lo akan selamanya dicap sebagai orang yang menyebalkan. Untuk itu, jangan ragu untuk menyapa dan memulai pembicaraan dengan orang lain.

Selain itu, biasakan untuk melakukan gesture hormat. Misalnya, menunduk ketika lewat di depan orang yang lebih tua atau dengan tidak mengalihkan pandangan dari lawan bicara.

Cara-cara simpel seperti ini efektif untuk menghilangkan toxic masculinity. Lo juga akan dicap sebagai pria yang sopan dan menjunjung tinggi tata krama.

 

3. Memikirkan Akibat Setiap Perbuatan

Cara terakhir yang efektif mengurangi toxic masculinity yaitu dengan memikirkan matang-matang akibat dari setiap perbuatan. Misalkan ketika melakukan kekerasan verbal ataupun fisik kepada lawan jenis, cobalah pikirkan bagaimana risiko dan efek jangka panjangnya.

Bisa jadi korban akan mengalami trauma dan membuat hidupnya kacau. Sesekali coba bayangkan bagaimana rasanya kalau lo yang ada di posisi mereka.

Intinya, lo perlu berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu. Jangan menjadi sumbu pendek karena setiap perbuatan yang lo lakukan pasti ada balasannya di kemudian hari.

 

Cek juga: Cara Mudah Belajar Bahasa Inggris bagi Pemula

 

Nah itulah ulasan mengenai toxic masculinity dan cara menguranginya dalam keseharian kita.

Yuk, jadilah pria yang maskulin tanpa memandang rendah orang di sekitar kita. Saatnya kita mulai meningkatkan nilai hidup kita agar berguna bagi diri sendiri maupun orang lain.

Buat lo yang tertarik dengan pembahasan seputar isu-isu pria dan maskulinitas, bisa juga coba cek kumpulan artikel yang gw buat terkait Hari Pria Internasional ya.

Jika lo punya pertanyaan atau komentar seputar toxic masculinity, silahkan bagikan di kolom komentar di bawah. Blog Mas Kulin dikhususkan untuk membahas seputar dunia gaya hidup pria kasual dan praktis.

Pastikan untuk mengecek cara mudah tampil keren sehari-hari ya. Pastinya, maskulin banget bro!

 

Salam Semangat,

Mas Kulin

Dukung Blog Mas Kulin lewat Sociabuzz Tribe Yuk

 

Follow Instagram Mas Kulin
Follow Blog Fashion Pria Kasual Indonesia Mas-Kulin.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *